Selasa, 09 Desember 2014

Dibalik Keceriaan Dokter Internsip

Apa yang ingin kami sampaikan bukan keluhan "manja". 
Kami hanya berbagi cerita. 
Ada sedikit goresan buram dari perjalanan ini.
Mewakili curahan hati ribuan anak yang ingin meringankan beban orang tua masing-masing.
Sebut kami doksip,dokter internsip. 
Bukan dokter muda,tapi dokter yang masih muda. 

Awal menginjakan kaki di wahana internship,kami berharap banyak. 
Baiklah,lima tahun lebih menempuh pendidikan di fakultas kedokteran,akhirnya selesai sudah. 
Masing2 dari kami sudah memegang ijazah dokter. 
Dengan ijazah digenggaman,berharap ada yang bisa kami bagi pada keluarga dan menyenangkan orang tua dengan menyisihkan sebagian rupiah yang kami terima sebagai bentuk balas jasa meski tidak akan pernah sebanding dengan yang pernah mereka beri.

Oh,kami salah,setelah ratusan juta yang orang tua kami keluarkan selama masa pendidikan,beban mereka tidak berhenti sampai disana saja. 
Bahkan setelah memiliki gelar,kami masih juga menjadi beban.
Kami masih juga berdiri di depan anjungan tunai mandiri menunggu transferan orang tua kami masing-masing.

Menyadari berpuluh tahun mereka yang begitu lelah bekerja,ah,maafkan kami ya ayah,bunda...belum juga mampu untuk hidup mandiri. 
Sampai disini pun masih menguras kantung orang tua untuk mencari tempat tinggal. 
Tidak sampai disana,ongkos dan makan masih harus mereka tanggung sambil menunggu tabungan kami memunculkan angka 2.5 juta. Entah apa setelah terbayarkan kami tidak lagi membebani mereka. 
Biaya di sini berbeda jauh dengan di tanah jawa. 
Belum lagi susah payah mencari tempat tinggal sekitar wahana,ternyata kami harus menerima kenyataan kami terbagi bergantian.
Bahkan di fasilitas kesehatan primer,mereka menunjuk beberapa tempat dan tiap beberapa hari kami memutar giliran berusaha terbagi adil. 
Kala sakit pun kesehatan kami tidak terjamin.

Maaf ya ayah,bunda,masih setahun lagi sampai kami benar-benar mandiri dan tidak lagi membebani. 
Kadang ada air mata yang jatuh saat kami tidak lagi ingin meminta tapi tidak memiliki daya. 
Saat menunggu ketidakpastian dan kami masih selalu berharap. 
Sebuah kelayakan hidup tanpa lagi mengganggu kantung orang tua kami.Kami terlalu tua untuk itu.

Oh bukan,kami tidak mengeluh,kami hanya berbagi,toh tidak ada aksi demo atau mogok bekerja dengan kondisi seperti ini.
Kami tetap mengukir bahagia untuk dijadikan kenangan kelak dalam perjalanan kami.
Kami berusaha menikmati setiap menit kami di daerah yang bisa jadi sangat jauh dari orang tua.
Dalam doa tiap-tiap kami meminta,selalu limpahkan rezeki dan kesehatan pada orang tua kami.
Selalu dalam lindunganNya.

Pengalaman ini memang luar biasa.
Semakin membuat kami menghargai yang kami punya.

...kami jatuh cinta pada pekerjaan kami,tapi kami juga mencintai orang tua kami dan ingin mengurangi beban mereka dengan minimal mampu menanggung beban hidup sendiri...



Senin, 14 Juli 2014

Ini (BUKAN) Pujian

Ini bukan rentetan pujian.
Bukan sama sekali.

Begini,ya.
Aku tidak pernah tau akan seperti saat ini.
Ada dalam suatu kebahagiaan yang aku bangun benar-benar di bawah.
Dari hanya mencuri pandang diam-diam sampai saling beradu pandang dalam-dalam.
Dari hanya berbincang singkat sampai tidak berhenti membicarakan begitu banyak hal.
Mulai pada kesamaan nasib yang berganti sama-sama mengadu nasib.
Mulai pada tersenyum dalam diam sampai tertawa lebar bersama.
Yang awalnya aku lihat tapi tidak aku perhatikan.
Aku dengar tapi tidak aku tanggapi.
Seorang yang mendekat malu-malu dan perlahan.
Yang selalu memuji namun juga selalu aku abaikan.

Aku tadinya memang tidak yakin akan seberapa jauh berjalan.

Tapi kemudian menjadi semakin yakin.
Bagaimana aku masih meragu sementara aku lihat memang sosoknya luar biasa bagaimapun orang bercerita tentang dia (yang semua orang merasa begitu mengenalnya).
Lantas aku harus peduli ketika orang lain berkata kasar soal siapa yang bersamaku tapi aku merasakan yang berbeda?
Aku bukan tidak peduli pada masa lalu,aku hanya memberi kepercayaan dan kesempatan.
Karena di masa yang sekarang aku belum menemukan celanya.

Mencari sosok rupawan darinya aku dapat.
Dewasa? Aku tidak ragu pada kematangan pribadinya.
Kepintaran pun seperti melekat pada sosoknya.
Lalu sabar? Dia selalu enggan membentak dan berbicara keras,ucapnya lembut dan tidak penuh caci.
Rasanya,aku belum pernah kecewa pada sosoknya.

Lantas aku harus bagaimana sementara aku merasakan sesuatu yang luar biasa darinya?
Lantas aku harus berdiri sejauh apa sementara aku selalu ingin dekat?
Lantas aku harus percaya pada telinga atau mata dan perasaanku?7
Lantas aku harus berhenti mengagumi orang yang bisa membuatku merasa sangat beruntung?

Dia sehebat itu?
Iya,dia sehebat itu.
Aku tadi bilang ini bukan pujian, ya?
Tapi sulit sekali rasanya jika harus menulis tanpa memuji sosok ini.
:D



Cerita Dia Dibalik Uji Kompetensi (2)

Pengejaran untuk mencapai yudisium tepat waktu sudah dikerjakan dengan manis sekali. 
Dari mulai usaha berlandasan kemampuan pikir seperti skripsi sampai usaha yang memberatkan orang tua macam biaya puluhan juta.
Lega, tapi tidak lama karena ternyata petinggi-petinggi penyelenggara uji kompetensi tidak juga mencapai kata sepakat dalam penyelenggaraan ujian.
Kampus sudah berkali-kali mengajak mahasiswanya bertemu dan menjelaskan kondisi saat itu mengenai uji kompetensi periode Mei.

Kami hanya bisa tertunduk dan mengikuti alur,sebagian teman kami yang lain berjuang untuk mengikuti ujian yang kiranya akan dianggap sah dan dapat menerbitkan STR.
Sementara aku?
Lagi-lagi hanya ikut arus.
Sesering mungkin berbagi cerita dengan orang tuaku supaya mereka mengerti kondisi saat ini.
Mereka sebenarnya mungkin ingin secepat mungkin aku menyelesaikan terapi.
Ketimbang aku harus disini dengan ketidakpastian.
Suasana yang sungguh membuatku tidak nyaman.

Sekali lagi aku tegaskan aku memang hanya ikut arus tidak berbuat banyak seperti sebagian teman-teman yang berjuang mendapatkan kepastian ujian.
Bukan sama sekali tidak mau berperan serta atau tidak mendukung gerakan mereka.
Tapi sepertinya kami memiliki medan perang sendiri. Sementara ada mereka yang berjuang demi teman2,aku cukuplah berjuang demi orang tuaku dan mereka yang menyayangiku.

Dan pada titik dimana aku mulai sering absen bimbingan belajar,kepastian justru datang dan ujian kompetensi akan dilaksanakan dalam waktu yang maju sekali dari perkiraanku.
Sedikit terburu2 mengurus ini itu. 
Tapi toh dengan izinNya semua selesai,ujian berjalan,dan kami yang sudah lama terombang ambing akhirnya lulus.
Dan airmata yang menetes hari itu adalah perasaan luar biasa bisa menggapai satu mimpi di titik terberat selama menempuh pendidikan ini.

Sekarang,ijazah dokter di tangan kami sudah bisa dipertanggungjawabkan.
:)



Selasa, 08 Juli 2014

My Hand is Yours

Sekali lagi sela2 jariku saling menggenggam,membayangkan saat ini genggamku ada padamu.
Aku tidak pernah terluka oleh apapun yang sedang sangat ribut ditubuhku tanpa henti dan tidak memandang waktu.
Tidak peduli siang ataupun malam. 
Bahkan tidak peduli aku sedang mendekapmu atau bersenda gurau. 
Tidak ada kompromi. Yang di dalam sana hanya tau bagaimana caranya menyerang.
Tapi dari luar aku cuma tertawa.
Aku tidak sakit.
Aku bertaruh luka duniaku pada sosokmu artinya bukan mereka yang dapat menyakitiku dan sosokmu kuakui merupakan orang yang sangat tepat aku titipkan bahagiaku.
Dengan segel yang begitu rumit dan rapat sosokmu menjaga duka duniaku agar tidak menggangguku dan melepas dengan sebebas-bebasnya bahagia untukku.

Tanganku kini sibuk mencari sosokmu,mencari di kening atau kepalaku barangkali tanganmu disana sedang mengusapku. 
Tapi aku salah,aku tidak menemukan apapun.
Aku hampir menangis merasakan sakit pada kakiku,bukan tanganku,oh maksudku kepalaku,tapi bukan yang benar perutku.
Baiklah,ternyata sakitnya menyeluruh.
Aku hampir menitikkan air mata dalam selimutku sebelum kemudian aku mencium aromamu ditangan kanan dan kiriku.
Aku tau sosokmu masih disana,tangan hangatmu masih disana,disela2 jariku dan menggenggamku erat.
Karena itu aku kemudian saling mendekatkan keduanya. Dan mulai berdamai serta kembali merasa nyaman....



Cerita Dia Dibalik Uji Kompetensi (1)

Heboh.
Semua mengejar jadwal sidang dan melengkapi berkas.
Mencari kesempatan dan mengeluarkan banyak uang untuk ujian perbaikan nilai.
Saat itu aku sudah berhenti mengejar perbaikan nilai.
Sudah mengiyakan pada kepanjangtanganan kampus di rumah sakit umum untuk mengeluarkan saja sertifikat kepaniteraanku.
Kini tinggal mencecar dosen untuk secepatnya merevisi skripsiku untuk secepatnya sidang. Melunasi biaya kampus yang tidak sedikit.
Baiklah,tapi nyatanya aku sedang di pesawat menuju negeri kincir angin. 
Semangat 45 berobat demi mengubah nasib kesehatan.
Setetes dua tetes kadang airmataku mengalir. Mengingat ada sosok lain yang aku lepas di kota lain untuk menghadapi sendiri perbaikannya. Dia yang selama ini aku temani sekedar menyemangati atau mengingatkan makan.
Sekali lagi rindu datang membawa angin kencang dengan banyak debu yang menyakiti mata hingga aku menangis.
Aku membuka foto-foto di ponsel,aku juga rindu sekali pada mommy dan daddy. Mereka pasti juga sedang mengamati fotoku di rumah. Memeluk selimutku atau menonton video2 kami.

Aih...
Baru lima jam dan aku sudah sangat sangat rindu. :")
Hatiku kembali tersangkut pada uji kompetensi,masih mungkin aku mengejar itu semua? Aku melihat awan di kanan dan kiriku tiba2 semua berubah bentuk menjadi mom,dad,keluarga kecilku,kamu.
Hati ku sedikit meringis,bagaimana bisa kita terpisah pada begitu jauh saat ini.
Bagaimana disana aku nanti? Hanya bersama seorang dokter pendamping.

Ah ternyata segala sesuatu belum tentu sesuai harapan...
Hanya satu minggu kemudian takdirku membawaku kembali ke tanah air demi melengkapi berkas. 
Yang artinya juga memfokuskan diri pada sidang,pengurusan berbagai macam surat "bebas".
Mataku masih terpejam saat sentuhan lembut disebelahku mengisyaratkan kami sudah sampai di kampus. Badanku tidak nyaman,mataku masih bengkak,perut terus bergejolak. Tapi aku tau ini harus selesai. 

Kamis, 27 Februari 2014

Hidup (itu ya begini)

Teman,
Hidup itu ya begini
Keras, meskipun tidak sampai menggoreskan luka yang terlihat oleh mata

Sejak kecil kita diminta bertahan untuk sebuah kehidupan bukan?
Sedikit berbagi, aku  dilatih untuk bertahan hidup sejak kecil
Jantungku diciptakan berbeda dari milik yang lain
Tapi tidak apa, agar suatu hari detaknya dikenali hanya milikku
Hari ini aku masih menggunakan jantung yang sama untuk kehidupanku
Dan aku baik-baik saja

Teman,
Hidup itu ya begini
Keras, meskipun tidak sampai menggoreskan luka yang terlihat oleh mata

Tapi aku diajarkan untuk percaya bahwa Yang Maha Baik akan senantiasa memberikan jalan keluar
Kita hanya sedang dipersiapkan untuk menjadi lebih baik ketika kita diuji
Merasa lelah itu sangat manusiawi,
Tapi kemudian tidak mau berusaha karena kelelahan
Itu petaka!


Teman,
Hidup itu ya begini
Keras, meskipun tidak sampai menggoreskan luka yang terlihat oleh mata

Untuk sekantung darah kadang kita harus mengantri menunggu "jatah"
Tapi memang kenapa? Sabar sedikit kemudian akan dapat yang dibutuhkan, tidak apa kan?
Kadang malah Yang Maha Cinta berbaik hati memberikan lebih dari yang kita butuhkan
Bersyukur sajalah asal masih bisa menyambung hidup
Menikmati matahari terbit dan terbenam
Bertemu hidup dan segala problematikanya
Syukuri, Sayang
Artinya hidupmu masih nyata


Teman,
Hidup itu ya begini
Keras, meskipun tidak sampai menggoreskan luka yang terlihat oleh mata

Tapi rasa bahagia tergantung bagaimana cara kita melihat masalah dan bersyukur
Jika sedikit saja yang kita beri sudah cukup membuat orang lain bahagia, 
maka seharusnya kita akan lebih semangat lagi untuk memberikan lebih banyak
Jika sedikit saja yang diberikan kesayangan disekitar kita sudah cukup membuat kita kuat dan bertahan,
maka yakinkan mereka, tidak perlu lelah berpikir untuk memberikan lebih banyak dari yang sudah mereka beri

Kita semua sudah pernah kan terjatuh?
Lantas kita segera berdiri lagi sebelum seluruh tubuh kita terinjak.

Ya sudah, cukup kan?
Apalagi?
Apalagi yang membuat kepalamu pusing dan terus mencari?
Kita pasti pernah babak belur memulai dan akan ada masaanya akan duduk sangat cantik di singgasana cinta

Kita bahagia kan? Kalian bahagia kan?
Aku?
Bahagia sekali


Selasa, 25 Februari 2014

Hallo, Jodohku Sayang

Hai jodohku sayang...
Apa kabarmu hari ini?
Aku masih menantimu...
Menantimu mendampingiku seumur hidupku
Menantimu membangun maasa depan bersamaku dan anak-anak kita kelak

Hallo jodohku sayang,
Aku tidak berani berjanji untuk menjadi seorang istri yang sempurna
Mungkin makanan di meja bukan selalu masakanku, aku kurang pandai memasak dan tidak mau gizimu menjadi tidak baik hanya karena tanganku tidak terampil meracik bumbu dapur
Mungkin aku tidak selalu memegang sapu dan kain pel untuk membuat lantai rumah kita selalu bersih untuk anak-anak kita bermain
Mungkin aku pun bukanlah orang yang akan mencuci baju kita dan anak-anak kita dan menyetrikanya hingga licin dan wangi, aku tidak mau anak dan suamiku gatal-gatal karena ulahku
Aku sudah katakan itu dari sekarang jadi kelak kamu tidak terlalu kaget dengan hambar dan asinnya masakanku atau rumah yang justru menjadi becek setelah aku pel atau kita harus bersama pergi ke dokter kulit karena gatal di seluruh tubuh

Kesayanganku,
Tapi aku bisa pastikan satu hal...
Tanganku ini kelak akan menjagamu
Merengkuhmu sangat kamu banyak pikiran dan direndahkan banyak orang
Menggenggamnu saat lelah
Membantumu berdiri saat kamu terjatuh
Mendampingimu meraih impianmu akan kesuksesan dan keluarga yang bahagia...

Priaku yang hebat,
Kelak diamku karena tidak setuju pada keputusanmu dan penolakanmu akan pendapatku, tidak akan aku jadikan perdebatan, aku biarkan semua mengalir mengikuti inginmu
Jika toh hasilnya tidak baik, tanganku akan menjadi tangan pertama yang membantumu dan memelukmu erat
Seringan apapun sakitmu aku yang akan lebih dulu membiarkan bahuku disandari tubuh besarmu
Membiarkanmu tertidur di sana hingga kamu merasa lebih baik
Kamu pastilah sangat lelah mencari uang untukku dan anak-anak
Maka tidak akan aku biarkan priaku ini semakin lelah dengan kecerewetanku

Sayang,
Aku janji sepanjang sisa hidupku mendampingimu, aku tidak akan meninggikan suaraku saat aku merasa kesal
Aku janji akan selalu memelukmu untuk menghentikan kekesalanmu, karena aku percaya, pelukan mana yang tidak menenangkan jiwa yang gusar?
Jadi imamku, ya. Selangkah di depanku untuk menjaga keluarga kita.
Aku menunggumu di pintu hatiku.


Selasa, 11 Februari 2014

Kalian Masih (dan akan selalu) Luar Biasa

Pagi  ini masih seperti pagi yang kemarin dan pagi-pagi sebelumnya semenjak aku jarang ada dirumah
Dering telepon pertama pagi ini masih dari dua orang luar biasa yang senantiasa memperjuangkanku serta kehidupanku sejak kecil
Ah…bu…pa….kalian tidak pernah bosan mengecekku tiap pagi, siang, malam, bahkan waktu diantaranya dan menyapaku dengan  bahasa rindu yang luar biasa
Selalu berteriak memanggil sayang dan mengingatkan makan
Dimana lagi orang tua sehebat kalian….
Menularkan entah apa, tapi yang jelas hawa yang sangat positif bagiku dan sekitarku

Menatap langit-langit tempat aku terbangun pagi ini kemudian teringat rumah dan segala kehebohannya tiap pagi
Teringat bagaimana keluarga kecil kami saling menyalahkan soal siapa bangun paling siang kemudian tertawa lega saat menyadari tidak terlalu terlambat dan pasti si kecil yang jadi korban
Pikiranku kembali melayang ke sepuluh atau bahkan lima belas tahun silam, mengenang masa kecilku yang mereka berikan dengan sangat sempurna
Mungkin ibu terlalu sibuk di luar, sibuk bekerja dan belajar, waktu untuk kami bersama tidak terlalu banyak, tapi ibu bisa dengan luar biasa memanfaatkan waktu yang tidak banyak dengan pertemuan berkualitas
Sementara pa tidak jauh berbeda, mengejar gelar dan bekerja keras untuk keluarga kecil kami, tapi aku masih ingat betul bagaimana dia meninggalkan soal-soal di buku tulis kami dan kemudian memeriksanya sepulang bekerja sambil aku bergelayut manja di lengan kokohnya
Aku juga teringat akhir pekan kami juga selalu luar biasa
Selalu dibawa bertamasya dan tidak menyinggung sama sekali soal sekolah dan pekerjaan, hanya pertanyaan sederhana macam “Mau makan apa?” yang dilontarkan
Dibawa ke gunung atau ke pantai, berjalan di mall atau melihat museum
Kemudian pulang ke rumah dan dalam lelahnya pa masih mendongeng dengan ekspresi dan permainan suara yang begitu luar biasa atau kadang ibu membacakan buku cerita sebanyak ia bias

Sekarang mereka tidak sesibuk dulu, hanya menghabiskan waktu pada jam bekerja yang wajar kemudian pulang menyapa anak-anak mereka yang sudah beranjak dewasa
Berbagi cerita dan meminta pendapat layaknya teman
Mereka tidak pernah merasa anak-anak terlalu tua untuk tetap bermanja, memeluk dengan kasih, dan mencium dengan cinta
Memuji anak-anak dengan “cantik” dan “tampan” meskipun di luar sana banyak yang lebih cantik dan tampan
Ah…kalian ini benar-benar hebat
Dari mana aku belajar soal menyayangi dan mencintai kalau bukan dari kalian yang begitu hebat menyayangi dan mencintai
Dari mana aku tahu soal kuat dan bertahan kalau bukan dari kalian yang menunjukkan padaku untuk kuat di saat terlemah dan bertahan di saat tersulit
Dari mana aku mengerti cara menebar kasih kalau bukan kalian yang luar biasa menebar kasih pada sesama
Aku belajar soal hidup dari kalian
Bahwa hidup tidak mudah
Hidup tidak selalu indah
Naik turun itu biasa
Tapi hidup akan dipermudah olehNya jika kita berusaha
Usaha yang cukup dan pantas diberi kemudahan
Hidup akan indah saat kita selalu melihat sisi terindah setiap kejadian
Naik turun bukan masalah, karena kita tahu kita sedang belajar
Bagaimana mungkin aku rela menjadi biasa saat orang tuaku mencontohkan yang luar biasa
Aku tidak mau mereka sia-sia sudah banjir peluh dan menguras tenaga habis-habisan
Aku tidak rela jika perjuangan mereka mempertahankan hidupku sejak kecil berakhir duka
Jadi sesulit apapun saat ini, sesakit apapun
Ternyata kakiku masih sangat kokoh dengan kalian mendampingiku di masa tersulitku
Memeluk saat orang lain mencaci
Jadi bu…pa…
Tunggu aku menjadi sukses
Membuktikan pada siapapun yang mencibir, kalian sedang membesarkan biang-biang hebat
Dampingi saja terus aku dengan doa dan kasih sayang
Maka aku terus berjalan
Tunggu, ya….


I love you dear mom and dad