Pengejaran untuk mencapai yudisium tepat waktu sudah dikerjakan dengan manis sekali.
Dari mulai usaha berlandasan kemampuan pikir seperti skripsi sampai usaha yang memberatkan orang tua macam biaya puluhan juta.
Lega, tapi tidak lama karena ternyata petinggi-petinggi penyelenggara uji kompetensi tidak juga mencapai kata sepakat dalam penyelenggaraan ujian.
Kampus sudah berkali-kali mengajak mahasiswanya bertemu dan menjelaskan kondisi saat itu mengenai uji kompetensi periode Mei.
Kami hanya bisa tertunduk dan mengikuti alur,sebagian teman kami yang lain berjuang untuk mengikuti ujian yang kiranya akan dianggap sah dan dapat menerbitkan STR.
Sementara aku?
Lagi-lagi hanya ikut arus.
Sesering mungkin berbagi cerita dengan orang tuaku supaya mereka mengerti kondisi saat ini.
Mereka sebenarnya mungkin ingin secepat mungkin aku menyelesaikan terapi.
Ketimbang aku harus disini dengan ketidakpastian.
Suasana yang sungguh membuatku tidak nyaman.
Sekali lagi aku tegaskan aku memang hanya ikut arus tidak berbuat banyak seperti sebagian teman-teman yang berjuang mendapatkan kepastian ujian.
Bukan sama sekali tidak mau berperan serta atau tidak mendukung gerakan mereka.
Tapi sepertinya kami memiliki medan perang sendiri. Sementara ada mereka yang berjuang demi teman2,aku cukuplah berjuang demi orang tuaku dan mereka yang menyayangiku.
Dan pada titik dimana aku mulai sering absen bimbingan belajar,kepastian justru datang dan ujian kompetensi akan dilaksanakan dalam waktu yang maju sekali dari perkiraanku.
Sedikit terburu2 mengurus ini itu.
Tapi toh dengan izinNya semua selesai,ujian berjalan,dan kami yang sudah lama terombang ambing akhirnya lulus.
Dan airmata yang menetes hari itu adalah perasaan luar biasa bisa menggapai satu mimpi di titik terberat selama menempuh pendidikan ini.
Sekarang,ijazah dokter di tangan kami sudah bisa dipertanggungjawabkan.
:)
Senin, 14 Juli 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar