Selasa, 08 Juli 2014

Cerita Dia Dibalik Uji Kompetensi (1)

Heboh.
Semua mengejar jadwal sidang dan melengkapi berkas.
Mencari kesempatan dan mengeluarkan banyak uang untuk ujian perbaikan nilai.
Saat itu aku sudah berhenti mengejar perbaikan nilai.
Sudah mengiyakan pada kepanjangtanganan kampus di rumah sakit umum untuk mengeluarkan saja sertifikat kepaniteraanku.
Kini tinggal mencecar dosen untuk secepatnya merevisi skripsiku untuk secepatnya sidang. Melunasi biaya kampus yang tidak sedikit.
Baiklah,tapi nyatanya aku sedang di pesawat menuju negeri kincir angin. 
Semangat 45 berobat demi mengubah nasib kesehatan.
Setetes dua tetes kadang airmataku mengalir. Mengingat ada sosok lain yang aku lepas di kota lain untuk menghadapi sendiri perbaikannya. Dia yang selama ini aku temani sekedar menyemangati atau mengingatkan makan.
Sekali lagi rindu datang membawa angin kencang dengan banyak debu yang menyakiti mata hingga aku menangis.
Aku membuka foto-foto di ponsel,aku juga rindu sekali pada mommy dan daddy. Mereka pasti juga sedang mengamati fotoku di rumah. Memeluk selimutku atau menonton video2 kami.

Aih...
Baru lima jam dan aku sudah sangat sangat rindu. :")
Hatiku kembali tersangkut pada uji kompetensi,masih mungkin aku mengejar itu semua? Aku melihat awan di kanan dan kiriku tiba2 semua berubah bentuk menjadi mom,dad,keluarga kecilku,kamu.
Hati ku sedikit meringis,bagaimana bisa kita terpisah pada begitu jauh saat ini.
Bagaimana disana aku nanti? Hanya bersama seorang dokter pendamping.

Ah ternyata segala sesuatu belum tentu sesuai harapan...
Hanya satu minggu kemudian takdirku membawaku kembali ke tanah air demi melengkapi berkas. 
Yang artinya juga memfokuskan diri pada sidang,pengurusan berbagai macam surat "bebas".
Mataku masih terpejam saat sentuhan lembut disebelahku mengisyaratkan kami sudah sampai di kampus. Badanku tidak nyaman,mataku masih bengkak,perut terus bergejolak. Tapi aku tau ini harus selesai. 

0 komentar:

Posting Komentar