Senin, 14 Juli 2014

Ini (BUKAN) Pujian

Ini bukan rentetan pujian.
Bukan sama sekali.

Begini,ya.
Aku tidak pernah tau akan seperti saat ini.
Ada dalam suatu kebahagiaan yang aku bangun benar-benar di bawah.
Dari hanya mencuri pandang diam-diam sampai saling beradu pandang dalam-dalam.
Dari hanya berbincang singkat sampai tidak berhenti membicarakan begitu banyak hal.
Mulai pada kesamaan nasib yang berganti sama-sama mengadu nasib.
Mulai pada tersenyum dalam diam sampai tertawa lebar bersama.
Yang awalnya aku lihat tapi tidak aku perhatikan.
Aku dengar tapi tidak aku tanggapi.
Seorang yang mendekat malu-malu dan perlahan.
Yang selalu memuji namun juga selalu aku abaikan.

Aku tadinya memang tidak yakin akan seberapa jauh berjalan.

Tapi kemudian menjadi semakin yakin.
Bagaimana aku masih meragu sementara aku lihat memang sosoknya luar biasa bagaimapun orang bercerita tentang dia (yang semua orang merasa begitu mengenalnya).
Lantas aku harus peduli ketika orang lain berkata kasar soal siapa yang bersamaku tapi aku merasakan yang berbeda?
Aku bukan tidak peduli pada masa lalu,aku hanya memberi kepercayaan dan kesempatan.
Karena di masa yang sekarang aku belum menemukan celanya.

Mencari sosok rupawan darinya aku dapat.
Dewasa? Aku tidak ragu pada kematangan pribadinya.
Kepintaran pun seperti melekat pada sosoknya.
Lalu sabar? Dia selalu enggan membentak dan berbicara keras,ucapnya lembut dan tidak penuh caci.
Rasanya,aku belum pernah kecewa pada sosoknya.

Lantas aku harus bagaimana sementara aku merasakan sesuatu yang luar biasa darinya?
Lantas aku harus berdiri sejauh apa sementara aku selalu ingin dekat?
Lantas aku harus percaya pada telinga atau mata dan perasaanku?7
Lantas aku harus berhenti mengagumi orang yang bisa membuatku merasa sangat beruntung?

Dia sehebat itu?
Iya,dia sehebat itu.
Aku tadi bilang ini bukan pujian, ya?
Tapi sulit sekali rasanya jika harus menulis tanpa memuji sosok ini.
:D



0 komentar:

Posting Komentar