Ini bukan rentetan pujian.
Bukan sama sekali.
Begini,ya.
Aku tidak pernah tau akan seperti saat ini.
Ada dalam suatu kebahagiaan yang aku bangun benar-benar di bawah.
Dari hanya mencuri pandang diam-diam sampai saling beradu pandang dalam-dalam.
Dari hanya berbincang singkat sampai tidak berhenti membicarakan begitu banyak hal.
Mulai pada kesamaan nasib yang berganti sama-sama mengadu nasib.
Mulai pada tersenyum dalam diam sampai tertawa lebar bersama.
Yang awalnya aku lihat tapi tidak aku perhatikan.
Aku dengar tapi tidak aku tanggapi.
Seorang yang mendekat malu-malu dan perlahan.
Yang selalu memuji namun juga selalu aku abaikan.
Aku tadinya memang tidak yakin akan seberapa jauh berjalan.
Tapi kemudian menjadi semakin yakin.
Bagaimana aku masih meragu sementara aku lihat memang sosoknya luar biasa bagaimapun orang bercerita tentang dia (yang semua orang merasa begitu mengenalnya).
Lantas aku harus peduli ketika orang lain berkata kasar soal siapa yang bersamaku tapi aku merasakan yang berbeda?
Aku bukan tidak peduli pada masa lalu,aku hanya memberi kepercayaan dan kesempatan.
Karena di masa yang sekarang aku belum menemukan celanya.
Mencari sosok rupawan darinya aku dapat.
Dewasa? Aku tidak ragu pada kematangan pribadinya.
Kepintaran pun seperti melekat pada sosoknya.
Lalu sabar? Dia selalu enggan membentak dan berbicara keras,ucapnya lembut dan tidak penuh caci.
Rasanya,aku belum pernah kecewa pada sosoknya.
Lantas aku harus bagaimana sementara aku merasakan sesuatu yang luar biasa darinya?
Lantas aku harus berdiri sejauh apa sementara aku selalu ingin dekat?
Lantas aku harus percaya pada telinga atau mata dan perasaanku?7
Lantas aku harus berhenti mengagumi orang yang bisa membuatku merasa sangat beruntung?
Dia sehebat itu?
Iya,dia sehebat itu.
Aku tadi bilang ini bukan pujian, ya?
Tapi sulit sekali rasanya jika harus menulis tanpa memuji sosok ini.
:D
Senin, 14 Juli 2014
Cerita Dia Dibalik Uji Kompetensi (2)
Pengejaran untuk mencapai yudisium tepat waktu sudah dikerjakan dengan manis sekali.
Dari mulai usaha berlandasan kemampuan pikir seperti skripsi sampai usaha yang memberatkan orang tua macam biaya puluhan juta.
Lega, tapi tidak lama karena ternyata petinggi-petinggi penyelenggara uji kompetensi tidak juga mencapai kata sepakat dalam penyelenggaraan ujian.
Kampus sudah berkali-kali mengajak mahasiswanya bertemu dan menjelaskan kondisi saat itu mengenai uji kompetensi periode Mei.
Kami hanya bisa tertunduk dan mengikuti alur,sebagian teman kami yang lain berjuang untuk mengikuti ujian yang kiranya akan dianggap sah dan dapat menerbitkan STR.
Sementara aku?
Lagi-lagi hanya ikut arus.
Sesering mungkin berbagi cerita dengan orang tuaku supaya mereka mengerti kondisi saat ini.
Mereka sebenarnya mungkin ingin secepat mungkin aku menyelesaikan terapi.
Ketimbang aku harus disini dengan ketidakpastian.
Suasana yang sungguh membuatku tidak nyaman.
Sekali lagi aku tegaskan aku memang hanya ikut arus tidak berbuat banyak seperti sebagian teman-teman yang berjuang mendapatkan kepastian ujian.
Bukan sama sekali tidak mau berperan serta atau tidak mendukung gerakan mereka.
Tapi sepertinya kami memiliki medan perang sendiri. Sementara ada mereka yang berjuang demi teman2,aku cukuplah berjuang demi orang tuaku dan mereka yang menyayangiku.
Dan pada titik dimana aku mulai sering absen bimbingan belajar,kepastian justru datang dan ujian kompetensi akan dilaksanakan dalam waktu yang maju sekali dari perkiraanku.
Sedikit terburu2 mengurus ini itu.
Tapi toh dengan izinNya semua selesai,ujian berjalan,dan kami yang sudah lama terombang ambing akhirnya lulus.
Dan airmata yang menetes hari itu adalah perasaan luar biasa bisa menggapai satu mimpi di titik terberat selama menempuh pendidikan ini.
Sekarang,ijazah dokter di tangan kami sudah bisa dipertanggungjawabkan.
:)
Dari mulai usaha berlandasan kemampuan pikir seperti skripsi sampai usaha yang memberatkan orang tua macam biaya puluhan juta.
Lega, tapi tidak lama karena ternyata petinggi-petinggi penyelenggara uji kompetensi tidak juga mencapai kata sepakat dalam penyelenggaraan ujian.
Kampus sudah berkali-kali mengajak mahasiswanya bertemu dan menjelaskan kondisi saat itu mengenai uji kompetensi periode Mei.
Kami hanya bisa tertunduk dan mengikuti alur,sebagian teman kami yang lain berjuang untuk mengikuti ujian yang kiranya akan dianggap sah dan dapat menerbitkan STR.
Sementara aku?
Lagi-lagi hanya ikut arus.
Sesering mungkin berbagi cerita dengan orang tuaku supaya mereka mengerti kondisi saat ini.
Mereka sebenarnya mungkin ingin secepat mungkin aku menyelesaikan terapi.
Ketimbang aku harus disini dengan ketidakpastian.
Suasana yang sungguh membuatku tidak nyaman.
Sekali lagi aku tegaskan aku memang hanya ikut arus tidak berbuat banyak seperti sebagian teman-teman yang berjuang mendapatkan kepastian ujian.
Bukan sama sekali tidak mau berperan serta atau tidak mendukung gerakan mereka.
Tapi sepertinya kami memiliki medan perang sendiri. Sementara ada mereka yang berjuang demi teman2,aku cukuplah berjuang demi orang tuaku dan mereka yang menyayangiku.
Dan pada titik dimana aku mulai sering absen bimbingan belajar,kepastian justru datang dan ujian kompetensi akan dilaksanakan dalam waktu yang maju sekali dari perkiraanku.
Sedikit terburu2 mengurus ini itu.
Tapi toh dengan izinNya semua selesai,ujian berjalan,dan kami yang sudah lama terombang ambing akhirnya lulus.
Dan airmata yang menetes hari itu adalah perasaan luar biasa bisa menggapai satu mimpi di titik terberat selama menempuh pendidikan ini.
Sekarang,ijazah dokter di tangan kami sudah bisa dipertanggungjawabkan.
:)
Selasa, 08 Juli 2014
My Hand is Yours
Sekali lagi sela2 jariku saling menggenggam,membayangkan saat ini genggamku ada padamu.
Aku tidak pernah terluka oleh apapun yang sedang sangat ribut ditubuhku tanpa henti dan tidak memandang waktu.
Tidak peduli siang ataupun malam.
Bahkan tidak peduli aku sedang mendekapmu atau bersenda gurau.
Tidak ada kompromi. Yang di dalam sana hanya tau bagaimana caranya menyerang.
Tapi dari luar aku cuma tertawa.
Aku tidak sakit.
Aku bertaruh luka duniaku pada sosokmu artinya bukan mereka yang dapat menyakitiku dan sosokmu kuakui merupakan orang yang sangat tepat aku titipkan bahagiaku.
Dengan segel yang begitu rumit dan rapat sosokmu menjaga duka duniaku agar tidak menggangguku dan melepas dengan sebebas-bebasnya bahagia untukku.
Tanganku kini sibuk mencari sosokmu,mencari di kening atau kepalaku barangkali tanganmu disana sedang mengusapku.
Tapi aku salah,aku tidak menemukan apapun.
Aku hampir menangis merasakan sakit pada kakiku,bukan tanganku,oh maksudku kepalaku,tapi bukan yang benar perutku.
Baiklah,ternyata sakitnya menyeluruh.
Aku hampir menitikkan air mata dalam selimutku sebelum kemudian aku mencium aromamu ditangan kanan dan kiriku.
Aku tau sosokmu masih disana,tangan hangatmu masih disana,disela2 jariku dan menggenggamku erat.
Karena itu aku kemudian saling mendekatkan keduanya. Dan mulai berdamai serta kembali merasa nyaman....
Aku tidak pernah terluka oleh apapun yang sedang sangat ribut ditubuhku tanpa henti dan tidak memandang waktu.
Tidak peduli siang ataupun malam.
Bahkan tidak peduli aku sedang mendekapmu atau bersenda gurau.
Tidak ada kompromi. Yang di dalam sana hanya tau bagaimana caranya menyerang.
Tapi dari luar aku cuma tertawa.
Aku tidak sakit.
Aku bertaruh luka duniaku pada sosokmu artinya bukan mereka yang dapat menyakitiku dan sosokmu kuakui merupakan orang yang sangat tepat aku titipkan bahagiaku.
Dengan segel yang begitu rumit dan rapat sosokmu menjaga duka duniaku agar tidak menggangguku dan melepas dengan sebebas-bebasnya bahagia untukku.
Tanganku kini sibuk mencari sosokmu,mencari di kening atau kepalaku barangkali tanganmu disana sedang mengusapku.
Tapi aku salah,aku tidak menemukan apapun.
Aku hampir menangis merasakan sakit pada kakiku,bukan tanganku,oh maksudku kepalaku,tapi bukan yang benar perutku.
Baiklah,ternyata sakitnya menyeluruh.
Aku hampir menitikkan air mata dalam selimutku sebelum kemudian aku mencium aromamu ditangan kanan dan kiriku.
Aku tau sosokmu masih disana,tangan hangatmu masih disana,disela2 jariku dan menggenggamku erat.
Karena itu aku kemudian saling mendekatkan keduanya. Dan mulai berdamai serta kembali merasa nyaman....
Cerita Dia Dibalik Uji Kompetensi (1)
Heboh.
Semua mengejar jadwal sidang dan melengkapi berkas.
Mencari kesempatan dan mengeluarkan banyak uang untuk ujian perbaikan nilai.
Saat itu aku sudah berhenti mengejar perbaikan nilai.
Sudah mengiyakan pada kepanjangtanganan kampus di rumah sakit umum untuk mengeluarkan saja sertifikat kepaniteraanku.
Kini tinggal mencecar dosen untuk secepatnya merevisi skripsiku untuk secepatnya sidang. Melunasi biaya kampus yang tidak sedikit.
Semua mengejar jadwal sidang dan melengkapi berkas.
Mencari kesempatan dan mengeluarkan banyak uang untuk ujian perbaikan nilai.
Saat itu aku sudah berhenti mengejar perbaikan nilai.
Sudah mengiyakan pada kepanjangtanganan kampus di rumah sakit umum untuk mengeluarkan saja sertifikat kepaniteraanku.
Kini tinggal mencecar dosen untuk secepatnya merevisi skripsiku untuk secepatnya sidang. Melunasi biaya kampus yang tidak sedikit.
Baiklah,tapi nyatanya aku sedang di pesawat menuju negeri kincir angin.
Semangat 45 berobat demi mengubah nasib kesehatan.
Setetes dua tetes kadang airmataku mengalir. Mengingat ada sosok lain yang aku lepas di kota lain untuk menghadapi sendiri perbaikannya. Dia yang selama ini aku temani sekedar menyemangati atau mengingatkan makan.
Sekali lagi rindu datang membawa angin kencang dengan banyak debu yang menyakiti mata hingga aku menangis.
Aku membuka foto-foto di ponsel,aku juga rindu sekali pada mommy dan daddy. Mereka pasti juga sedang mengamati fotoku di rumah. Memeluk selimutku atau menonton video2 kami.
Setetes dua tetes kadang airmataku mengalir. Mengingat ada sosok lain yang aku lepas di kota lain untuk menghadapi sendiri perbaikannya. Dia yang selama ini aku temani sekedar menyemangati atau mengingatkan makan.
Sekali lagi rindu datang membawa angin kencang dengan banyak debu yang menyakiti mata hingga aku menangis.
Aku membuka foto-foto di ponsel,aku juga rindu sekali pada mommy dan daddy. Mereka pasti juga sedang mengamati fotoku di rumah. Memeluk selimutku atau menonton video2 kami.
Aih...
Baru lima jam dan aku sudah sangat sangat rindu. :")
Hatiku kembali tersangkut pada uji kompetensi,masih mungkin aku mengejar itu semua? Aku melihat awan di kanan dan kiriku tiba2 semua berubah bentuk menjadi mom,dad,keluarga kecilku,kamu.
Hati ku sedikit meringis,bagaimana bisa kita terpisah pada begitu jauh saat ini.
Bagaimana disana aku nanti? Hanya bersama seorang dokter pendamping.
Hati ku sedikit meringis,bagaimana bisa kita terpisah pada begitu jauh saat ini.
Bagaimana disana aku nanti? Hanya bersama seorang dokter pendamping.
Ah ternyata segala sesuatu belum tentu sesuai harapan...
Hanya satu minggu kemudian takdirku membawaku kembali ke tanah air demi melengkapi berkas.
Yang artinya juga memfokuskan diri pada sidang,pengurusan berbagai macam surat "bebas".
Mataku masih terpejam saat sentuhan lembut disebelahku mengisyaratkan kami sudah sampai di kampus. Badanku tidak nyaman,mataku masih bengkak,perut terus bergejolak. Tapi aku tau ini harus selesai.
Langganan:
Komentar (Atom)


