Kamis, 27 Februari 2014

Hidup (itu ya begini)

Teman,
Hidup itu ya begini
Keras, meskipun tidak sampai menggoreskan luka yang terlihat oleh mata

Sejak kecil kita diminta bertahan untuk sebuah kehidupan bukan?
Sedikit berbagi, aku  dilatih untuk bertahan hidup sejak kecil
Jantungku diciptakan berbeda dari milik yang lain
Tapi tidak apa, agar suatu hari detaknya dikenali hanya milikku
Hari ini aku masih menggunakan jantung yang sama untuk kehidupanku
Dan aku baik-baik saja

Teman,
Hidup itu ya begini
Keras, meskipun tidak sampai menggoreskan luka yang terlihat oleh mata

Tapi aku diajarkan untuk percaya bahwa Yang Maha Baik akan senantiasa memberikan jalan keluar
Kita hanya sedang dipersiapkan untuk menjadi lebih baik ketika kita diuji
Merasa lelah itu sangat manusiawi,
Tapi kemudian tidak mau berusaha karena kelelahan
Itu petaka!


Teman,
Hidup itu ya begini
Keras, meskipun tidak sampai menggoreskan luka yang terlihat oleh mata

Untuk sekantung darah kadang kita harus mengantri menunggu "jatah"
Tapi memang kenapa? Sabar sedikit kemudian akan dapat yang dibutuhkan, tidak apa kan?
Kadang malah Yang Maha Cinta berbaik hati memberikan lebih dari yang kita butuhkan
Bersyukur sajalah asal masih bisa menyambung hidup
Menikmati matahari terbit dan terbenam
Bertemu hidup dan segala problematikanya
Syukuri, Sayang
Artinya hidupmu masih nyata


Teman,
Hidup itu ya begini
Keras, meskipun tidak sampai menggoreskan luka yang terlihat oleh mata

Tapi rasa bahagia tergantung bagaimana cara kita melihat masalah dan bersyukur
Jika sedikit saja yang kita beri sudah cukup membuat orang lain bahagia, 
maka seharusnya kita akan lebih semangat lagi untuk memberikan lebih banyak
Jika sedikit saja yang diberikan kesayangan disekitar kita sudah cukup membuat kita kuat dan bertahan,
maka yakinkan mereka, tidak perlu lelah berpikir untuk memberikan lebih banyak dari yang sudah mereka beri

Kita semua sudah pernah kan terjatuh?
Lantas kita segera berdiri lagi sebelum seluruh tubuh kita terinjak.

Ya sudah, cukup kan?
Apalagi?
Apalagi yang membuat kepalamu pusing dan terus mencari?
Kita pasti pernah babak belur memulai dan akan ada masaanya akan duduk sangat cantik di singgasana cinta

Kita bahagia kan? Kalian bahagia kan?
Aku?
Bahagia sekali


Selasa, 25 Februari 2014

Hallo, Jodohku Sayang

Hai jodohku sayang...
Apa kabarmu hari ini?
Aku masih menantimu...
Menantimu mendampingiku seumur hidupku
Menantimu membangun maasa depan bersamaku dan anak-anak kita kelak

Hallo jodohku sayang,
Aku tidak berani berjanji untuk menjadi seorang istri yang sempurna
Mungkin makanan di meja bukan selalu masakanku, aku kurang pandai memasak dan tidak mau gizimu menjadi tidak baik hanya karena tanganku tidak terampil meracik bumbu dapur
Mungkin aku tidak selalu memegang sapu dan kain pel untuk membuat lantai rumah kita selalu bersih untuk anak-anak kita bermain
Mungkin aku pun bukanlah orang yang akan mencuci baju kita dan anak-anak kita dan menyetrikanya hingga licin dan wangi, aku tidak mau anak dan suamiku gatal-gatal karena ulahku
Aku sudah katakan itu dari sekarang jadi kelak kamu tidak terlalu kaget dengan hambar dan asinnya masakanku atau rumah yang justru menjadi becek setelah aku pel atau kita harus bersama pergi ke dokter kulit karena gatal di seluruh tubuh

Kesayanganku,
Tapi aku bisa pastikan satu hal...
Tanganku ini kelak akan menjagamu
Merengkuhmu sangat kamu banyak pikiran dan direndahkan banyak orang
Menggenggamnu saat lelah
Membantumu berdiri saat kamu terjatuh
Mendampingimu meraih impianmu akan kesuksesan dan keluarga yang bahagia...

Priaku yang hebat,
Kelak diamku karena tidak setuju pada keputusanmu dan penolakanmu akan pendapatku, tidak akan aku jadikan perdebatan, aku biarkan semua mengalir mengikuti inginmu
Jika toh hasilnya tidak baik, tanganku akan menjadi tangan pertama yang membantumu dan memelukmu erat
Seringan apapun sakitmu aku yang akan lebih dulu membiarkan bahuku disandari tubuh besarmu
Membiarkanmu tertidur di sana hingga kamu merasa lebih baik
Kamu pastilah sangat lelah mencari uang untukku dan anak-anak
Maka tidak akan aku biarkan priaku ini semakin lelah dengan kecerewetanku

Sayang,
Aku janji sepanjang sisa hidupku mendampingimu, aku tidak akan meninggikan suaraku saat aku merasa kesal
Aku janji akan selalu memelukmu untuk menghentikan kekesalanmu, karena aku percaya, pelukan mana yang tidak menenangkan jiwa yang gusar?
Jadi imamku, ya. Selangkah di depanku untuk menjaga keluarga kita.
Aku menunggumu di pintu hatiku.


Selasa, 11 Februari 2014

Kalian Masih (dan akan selalu) Luar Biasa

Pagi  ini masih seperti pagi yang kemarin dan pagi-pagi sebelumnya semenjak aku jarang ada dirumah
Dering telepon pertama pagi ini masih dari dua orang luar biasa yang senantiasa memperjuangkanku serta kehidupanku sejak kecil
Ah…bu…pa….kalian tidak pernah bosan mengecekku tiap pagi, siang, malam, bahkan waktu diantaranya dan menyapaku dengan  bahasa rindu yang luar biasa
Selalu berteriak memanggil sayang dan mengingatkan makan
Dimana lagi orang tua sehebat kalian….
Menularkan entah apa, tapi yang jelas hawa yang sangat positif bagiku dan sekitarku

Menatap langit-langit tempat aku terbangun pagi ini kemudian teringat rumah dan segala kehebohannya tiap pagi
Teringat bagaimana keluarga kecil kami saling menyalahkan soal siapa bangun paling siang kemudian tertawa lega saat menyadari tidak terlalu terlambat dan pasti si kecil yang jadi korban
Pikiranku kembali melayang ke sepuluh atau bahkan lima belas tahun silam, mengenang masa kecilku yang mereka berikan dengan sangat sempurna
Mungkin ibu terlalu sibuk di luar, sibuk bekerja dan belajar, waktu untuk kami bersama tidak terlalu banyak, tapi ibu bisa dengan luar biasa memanfaatkan waktu yang tidak banyak dengan pertemuan berkualitas
Sementara pa tidak jauh berbeda, mengejar gelar dan bekerja keras untuk keluarga kecil kami, tapi aku masih ingat betul bagaimana dia meninggalkan soal-soal di buku tulis kami dan kemudian memeriksanya sepulang bekerja sambil aku bergelayut manja di lengan kokohnya
Aku juga teringat akhir pekan kami juga selalu luar biasa
Selalu dibawa bertamasya dan tidak menyinggung sama sekali soal sekolah dan pekerjaan, hanya pertanyaan sederhana macam “Mau makan apa?” yang dilontarkan
Dibawa ke gunung atau ke pantai, berjalan di mall atau melihat museum
Kemudian pulang ke rumah dan dalam lelahnya pa masih mendongeng dengan ekspresi dan permainan suara yang begitu luar biasa atau kadang ibu membacakan buku cerita sebanyak ia bias

Sekarang mereka tidak sesibuk dulu, hanya menghabiskan waktu pada jam bekerja yang wajar kemudian pulang menyapa anak-anak mereka yang sudah beranjak dewasa
Berbagi cerita dan meminta pendapat layaknya teman
Mereka tidak pernah merasa anak-anak terlalu tua untuk tetap bermanja, memeluk dengan kasih, dan mencium dengan cinta
Memuji anak-anak dengan “cantik” dan “tampan” meskipun di luar sana banyak yang lebih cantik dan tampan
Ah…kalian ini benar-benar hebat
Dari mana aku belajar soal menyayangi dan mencintai kalau bukan dari kalian yang begitu hebat menyayangi dan mencintai
Dari mana aku tahu soal kuat dan bertahan kalau bukan dari kalian yang menunjukkan padaku untuk kuat di saat terlemah dan bertahan di saat tersulit
Dari mana aku mengerti cara menebar kasih kalau bukan kalian yang luar biasa menebar kasih pada sesama
Aku belajar soal hidup dari kalian
Bahwa hidup tidak mudah
Hidup tidak selalu indah
Naik turun itu biasa
Tapi hidup akan dipermudah olehNya jika kita berusaha
Usaha yang cukup dan pantas diberi kemudahan
Hidup akan indah saat kita selalu melihat sisi terindah setiap kejadian
Naik turun bukan masalah, karena kita tahu kita sedang belajar
Bagaimana mungkin aku rela menjadi biasa saat orang tuaku mencontohkan yang luar biasa
Aku tidak mau mereka sia-sia sudah banjir peluh dan menguras tenaga habis-habisan
Aku tidak rela jika perjuangan mereka mempertahankan hidupku sejak kecil berakhir duka
Jadi sesulit apapun saat ini, sesakit apapun
Ternyata kakiku masih sangat kokoh dengan kalian mendampingiku di masa tersulitku
Memeluk saat orang lain mencaci
Jadi bu…pa…
Tunggu aku menjadi sukses
Membuktikan pada siapapun yang mencibir, kalian sedang membesarkan biang-biang hebat
Dampingi saja terus aku dengan doa dan kasih sayang
Maka aku terus berjalan
Tunggu, ya….


I love you dear mom and dad