Senin, 29 Juni 2015

Kata Orang, kami...

Coretan halus soal tiga ribu orang yang belum bisa berangkat mengabdi, saya pernah tertunda tapi perkara kisruh petinggi penyelenggara uji kompetensi. Dan saya tahu rasanya menunggu dan menghadapi pertanyaan orang tua:
"Jadi kapan kamu internsip?"

-----
Kata orang,
Kami adalah sekumpulan anak-anak orang kaya yang beruntung bisa kuliah di fakultas kedokteran.
Yang orang tidak tahu, orang tua kami membanting tulang demi menyekolahkan kami, bukan hanya dengan mengedipkan mata dan menjatuhkan air mata berupa rupiah.

Kata orang,
Kami adalah anak-anak berkelakuan eksklusif yang jarang bergaul dengan disiplin ilmu lain.
yang orang tidak tahu, kami sibuk dengan wrap up saat kuliah, laporan praktikum, ujian tanpa putus, menghafal di lab anatomi saat kuliah dan sibuk "bekerja" serta membuat laporan kasus atau referat saat koas.

Kata orang,
Kami harus belajar yang benar dan sungguh-sungguh karena yang kami tangani adalah manusia.
Sudah, kalau kami lengah sedikit, sudah pasti kami tidak lulus ujian pre klinik, ujian di setiap stase kepaniteraan, dan uji kompetensi, bukan?


Kata orang,
Kami harus memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi terhadap pasien.
Sudah, tidak ada dokter yang melakukan pembiaran saat pasiennya datang untuk berobat. Jiwa itu tumbuh dengan sendirinya.


Kata orang,
Kami harus ikhlas dalam menjalani pekerjaan kami dan tidak mengharap balas jasa berlebih.
Sudah, coba ceritakan pernahkan kami menuntut kenaikan upah dan berteriak di jalan bahwa apa yang kami terima kadang tidak cukup?


Lantas kapankah bagian kami bercerita soal kami?
Bahwa setelah lulus serangkaian ujian kami masih harus menganggur menunggu internsip tanpa kejelasan nasib?
Bahwa sambil menunggu kami tidak bisa melakukan apapun selain melanggar peraturan dengan berjaga di klinik tanpa surat tanda registrasi atau bahkan tanpa kegiatan apapun?
Bahwa setelah diberangkatkan, kami seperti anak kehilangan induk yang katanya bekerja dibawah supervisi tapi lebih sering duduk sendiri?


Kami terlihat happy, tapi kami selalu menanti.


Menanti perbaikan sistem ini sekalipun perlahan tapi pasti.
Menanti yang mengatur kami memiliki hati dan mengerti posisi kami. 
Tahukah kami sedemikian menunggu?
Dan selalu menunggu.
-----
Bersabar sedikit lagi ya, Sejawat



0 komentar:

Posting Komentar