Aku hanya seorang Nurul.
Seperti juga saudaraku yang lain.
Hanya kami. Tidak pernah begitu istimewa. Selain memiliki orang tua yang istimewa.
Yang selalu mengajarkan kami untuk menjadi pribadi-pribadi yang suka memeluk dan mencium saudara kami.
Kami anak baik-baik? Tidak. Kami nakal.
Ya kami nakal. Kami merajuk, membolos saat kelelahan, cemberut saat tidak mendapatkan mainan.
Tapi mereka yang kami panggil mommy dan daddy menjelaskan berkali-kali.
Tanpa bosan.
Betapa menahan diri itu baik, maka kami belajar menerima saat kami tidak mendapatkan yang kami ingini.
Menuntut ilmu adalah kewajiban, maka kami kembali belajar sekalipun keinginan bersenang senang sangat besar.
Bahwa tersenyum adalah ibadah, memberinya kepada orang lain termasuk sedekah.
Kami akhirnya selalu menyerah mencari alasan untuk tidak menurut.
Mereka benar.
Dan...
Ini kami. Memang akhirnya tumbuh menjadi anak-anak yang selalu dibilang kurang pergaulan.
Anak-anak yang berkutat dengan les ini itu dan lebih suka di rumah.
Atau menghabiskan waktu berdiskusi dengan orang tua kami soal apapun.
Soal agama kami, hidup kami, akademis kami, film yang kami tonton. Apapun.
Kami bahagia demikian.
Sekalipun kadang antar aku dan kakak serta adikku harus saling pandang tatkala melihat teman kami memegang gadget atau mainan baru dan kami harus bersabar melihat nilai laporan hasil belajar.
Kami juga tidak terbiasa menggunakan brand-brand ternama, selalu merasa cukup dengan brand kelas menengah. Asal awet, cukup.
Saling mengapresiasi dengan pujian karya saudara kami, sekalipun di luar sana banyak yang lebih baik, tapi menghargai pekerjaan saudara kami adalah keharusan bagi kami.
And thanks for that. Didikan macam ini membuat kami memahami arti berjuang sebelum mendapatkan reward yang pantas.
Mengerti cara menghargai tetes keringat orang lain ketika memperjuangkan sesuatu.
Ini kami.
Besar dengan dongeng-dongeng yang diceritakan daddy dengan permainan suaranya yang luar biasa.
Belajar mengurus rumah tangga saat mommy kemudian sekolah lagi dan daddy sibuk bekerja.
Kami yang pernah tidak memiliki apa-apa dan tetap diajarkan berbagi.
Dan inilah syukur terbesarku dan juga saudaraku hingga hari ini....
Syukurlah kalian memutuskan bersama sekian tahun lalu sebelum kami hadir....
Sehingga hari ini ada empat orang anak yang sekalipun saling "bully" tapi tidak pernah berhenti mencintai...
Jumat, 24 Juli 2015
Langganan:
Komentar (Atom)
