Sabtu, 27 Oktober 2012

Wisudaku untuk Ayah dan Bunda

21th April - Wisuda S, Ked


Masih di dalam stase obsgyn, masih cape banget...banget...banget...!!! Tapi teteeeep...semangat koas baru masih berapi-api. Meskipun malamnya habis jaga, waktu itu tanggal 20 April masih tetep ceria menempuh empat jam perjalanan demi sampai jakarta buat persiapan wisuda Sarjana Kedokteran besok paginya.

Satu tahap dalam pendidikan dokterku sudah terlewati, kini gelar S, Ked sudah layak menyambung nama belakangku. Kupersembahkan untuk ayah dan ibuku. Untuk adik dan kakakku. 

Sebuah pengalaman bahagia yang seharusnya benar-benar bahagia kalau saja hari itu aku mau sedikit berusaha menerobos kepadatan ruang auditorium. Belakangan baru kuketahui dari budeku kalau kedua orangtua ku hampir menitikkan air mata haru saat aku naik ke panggung dan bersalaman dengan rektor universitas. Saat lagu "ayah" dinyanyikan oleh grup paduan suara. Aku yakin wisuda ini bermakna dalam untuk kedua orang tuaku. Aku sadar betul mereka sanagt-sangat menyayangiku dan aku tidak memungkiri kalau kadang mereka memprioritaskan kebutuhanku dibanding saudaraku yang lain. Bukan karena mereka pilih kasih, bukan. Mungkin mereka hanya merasa keinginanku untuk menjadi dokter besar dan mereka pun selalu berharap satu anak mereka menjadi dokter.

Siang itu aku baru saja akan menerobos keramaian, ketika seorang teman tiba-tiba minta foto bersama, dilanjutkan adik kelas, dan akhirnya foto angkatan dan organisasi. Aku melihat dari atas panggung keluargaku di belakang sedang mengamatiku dan berharap aku menghampiri mereka lebih dulu. Adik kecilku sedang membawa setangkai bunga mawar. Mataku menyiratkan maaf yang besar. Tapi sayang, tidak dapat ditangkap dari jauh. Selesai berfoto, ayahku tampak kecewa, aku mencium tangannya dan meminta maaf dengan air mata yang masih menetes karena tidak langsung menghampirinya.

Aku hanya bisa memeluk kedua orang tuaku dan meminta maaf pada mereka. Aku tau ayahku melunak, meskipun kemudian beliau menolak untuk berfoto bersama di fasilitas yang disediakan dan kami hanya berfoto di depan auditorium kemudian pulang. Beliau berjanji suatu hari nanti akan ada her foto wisuda. :)

Kepada ayah
Kepada bunda
Aku minta maaf
Jutaan terimakasih tidak cukup untuk membalas apa yang kalian yang kalian beri hingga aku bisa seperti saat ini
Aku tau kalianlah orangtua terbaik yang ada di dunia
Yang senantiasa mendukungku
Aku belum lupa semua kompetisi yang kuikuti kalian dukung penuh
Aku belum lupa setiap organisasi yang kuikuti kalian dukung juga dengan sepenuh hati
Dan aku bisa menuntaskan strata pertamaku juga sekali lagi karena dukungan kalian
Saat ini hanya hembusan nafas terima kasih yang bisa kuberi
Berharap suatu hari aku bisa memberi lebih
Gelar Sarjana Kedokteran ini bukan semata-mata untuk diriku sendiri, tapi juga untuk membuat kalian merasa "berhasil"
I love you
More...

Koas Stase Satu - Obsgyn

It was 16th of April, pertama kali bekerja sebagai koas (:dokter muda), ada rasa senang dan bangga. Meskipun seketika itu juga jauh dari rumah tapi tetap semangat. Hehe... Sedikit kaget waktu pertama kali masuk stase Obsgyn, stase besar dan terkenal paling hectic. Tapi setelah menjalani yang namanya Obsgyn ternyata justru stase inilah yang paling mengajarkan disiplin dan kerjasama.

Masih ingat hari pertama di stase OK, semangat, gesit, tapi bloon nya kentara banget, waktu seorang perawat anestesi menepuk bahuku sambil bilang "drip, dok" mateeeeeeee.....drip itu diapain? beneran belum ngerti apa-apa, buta segala-gala. Ketebaklah itu perawat bete banget sama aku dan partner.... Saking takutnya disuruh-suruh partnerku saat itu milih dorong-dorong brankar, ngeluarin dan masukin pasien yang akan di kuret dan di SC dan ninggalin aku yang bengong dan disuruh macem-macem di dalam.

Akhirnya dengan memelas saat itu aku bilang "kita koas baru, pertama kali, belum pernah masuk apa2" baguslah mereka ngerti dan malah ngajarin kami banget... 
Berasa lah ilmu ngalir banget di stase ini...di mulai stase OK - Ruangan - VK - Ruangan - Poli ilmunya ngalir dan setiap tempat punya kesan tersendiri, terlalu banyak pengalaman berkesan di stase ini.

Belum lagi ilmu yang dikasih residen-residen yang baik-baik, karena di stase ini kami lebih banyak terpapar residen dan bidan dibanding konsulen. Dimulai dari belajar pemeriksaan dalam, minta diajarin sana sini, senior, bidan, residen, sampai akbid pun kita tanyain mulu, wajarlah akbid-akbid ini udah tingkat akhir, sedikit lagi jadi bu bidan, belajar kuret yang awalnya kaku sampai ditinggal ngerjain sendiri sama residennya, nolong orang partus normal di VK (ruang bersalin), ruangan juga punya kontribusi besar buat belajar jadi dokter yang teliti follow up pasien dan belajar nulis resep yang selama jadi mahasiswa belum ada bayangan. Poli punya cerita lain lagi, di sana benar-benar belajar jadi dokter, ketemu pasien langsung dengan keluhannya, belajar mendiagnosis sendiri sebelum akhirnya diputuskan akan dikirim ke VK atau cukup kontrol kembali dalam jangka waktu tertentu.

Belajar begadang lewat jaga malam. Ada yang jaga di VK ada yang jaga di ponek... Ponek yang jelas jadi inceran sih kalo lagi males jaga...hihi...soalnya tidak perlu observasi pasien, semua tinggal kirim ke VK, ya pahitnya paling kalau harus naik OK karena CITO, itu tugasnya yang jaga di ponek.

Pertama kali belajar bikin referat dan bikin case report. Bimbingan dari konsulen obsgynnya dapet banget, dari mulai bikin daftar pustaka sampe materi referat dan olahan case kita dibahas tiap kali maju presentasi. Oya, salah satu konsulennya, konsulen terbaik di Indonesia loh...hihi...:) 

Stase ini juga yang rutin seminggu sekali ada visit besar, rame-rame, ditanya macem-macem sambil diajarin macem-macem juga. Sering ngebantu temen yang ditanya juga, ngasih tau jawaban sambil bisik-bisik, sambil browsing-browsing. Belum lagi previsitnya yang kadang berlangsung sampai tengah malam nyalinin dan ngelengkapin status pasien. Dari tiga konsulen, visite sama konsulen yang paling muda yang paling bikin stres, harus hafal mati pasien. Meskipun kami bersembilan termasuk beruntung karena selama sepuluh minggu cuma satu kali visite bareng si abah...hihi...

Finally, setelah sepuluh minggu sengan suka dan dukanya kami harus menghadapi ujian, setelah sebelumnya pada minggu ke sembilan kami menghadapi mini c-ex. Ujian pertamaku sebagai koas. Ujian pertamaku yang paling bikin stress karena dapat pasien ginek dan diuji sama penguji yang kalau ngomong keras banget. Tapi toh kami bersembilan lulus semua... Alhamdulillah...
Terimakasih para konsulenku, residen-residen, bidan-bidan yang baik, perawat-perawat OK, teman-teman akbid dan akper...    


i'm gonna miss every moment we've shared together, guys